Siklus yang Tak Benar-benar Usai
Tapi, justru dari “ketidakistimewaan” itu, saya belajar banyak hal. Bukan tentang pelajaran di kelas, melainkan tentang perasaan.
Menjadi seorang Domsavian bagi saya bukan tentang seberapa banyak teman yang dimiliki, atau
seberapa tinggi prestasi yang diraih. Ini tentang bagaimana saya bertahan dalam siklus perasaan yang terus berulang—senang, sedih, kecewa, lalu mencoba bangkit lagi.
Saat pertama kali masuk sebagai siswa kelas 7, saya merasa gugup. Saya takut tidak punya teman. Saya datang dari latar belakang yang menurut saya “biasa saja”, dan itu membuat saya merasa kecil di tengah orang-orang baru. Tapi ternyata, saya tidak sepenuhnya sendiri. Ada beberapa orang yang menerima saya, yang mau berteman dengan saya.
Saat itu, saya bersyukur.
Namun, rasa syukur itu tidak bertahan lama. Saya menyadari bahwa saya masih terlalu kekanak-kanakan. Saya belum benar-benar memahami bagaimana bersikap dengan orang lain. Tanpa saya sadari, saya melakukan banyak kesalahan—hal-hal kecil yang mungkin terlihat sepele, tapi cukup untuk membuat orang lain menjauh. Dan saat itu terjadi, rasanya... sepi.
Kelas 7 menjadi salah satu fase yang paling campur aduk dalam hidup saya. Ada tawa, ada rasa malu, ada penyesalan yang bahkan sampai sekarang masih terasa ketika diingat. Kadang saya ingin menghapus bagian itu, tapi di sisi lain, saya tahu bahwa itu adalah bagian dari diri saya.
Lalu waktu berjalan.
Tahun berikutnya, kelas 8 dimulai. Pembagian kelas membuat semuanya terasa seperti di-reset. Lingkungan baru, wajah-wajah baru, dan tentunya—perasaan takut yang sama kembali muncul.Hari pertama terasa canggung. Hari-hari berikutnya terasa berat. Saya sempat berpikir, “Sepertinya akan sulit untuk diterima di sini.” Tapi lagi-lagi, saya salah. Ada orang-orang yang dengan berani mendekati saya. Mengajak saya bicara. Mengenal saya, tanpa memandang masa lalu saya. Jujur, saya heran. Karena bagi saya, itu hal yang tidak biasa. Saya bukan tipe orang yang mudah diajak bicara, apalagi didekati. Tapi mereka tetap melakukannya. Dan kali ini, saya tidak ingin mengulang kesalahan yang sama.
Karena di tempat inilah, saya belajar bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak pernah jatuh. Tapi tentang bagaimana kita terus bangkit, meskipun jatuh berkali-kali.
Dan sebagai seorang Domsavian, saya bangga pernah merasakan itu semua.
Dito 9J - 22


Komentar
Posting Komentar