Siklus yang Tak Benar-benar Usai

     SMP Pangudi Luhur Domenico Savio, atau yang sering dikenal sebagai SMP PL Domenico Savio, adalah salah satu sekolah menengah pertama yang cukup dikenal di Semarang. Lingkungannya nyaman, fasilitasnya memadai, dan suasana belajarnya mendukung. Dari luar, semuanya terlihat sempurna—seperti tempat yang ideal untuk tumbuh, belajar, dan menciptakan kenangan indah. Namun, tidak semua hal yang terlihat baik dari luar benar-benar terasa sempurna di dalam.




    Perkenalkan, nama saya Dito. Saya adalah salah satu siswa yang pernah menjadi bagian dari sekolah ini—seorang Domsavian. Jika dilihat dari luar, saya hanyalah siswa biasa. Nilai saya tidak menonjol, pertemanan saya tidak luas, dan saya tidak memiliki prestasi yang bisa dibanggakan. Saya bukan siapa-siapa di antara banyaknya siswa hebat di sini.

    Tapi, justru dari “ketidakistimewaan” itu, saya belajar banyak hal. Bukan tentang pelajaran di kelas, melainkan tentang perasaan.

    Menjadi seorang Domsavian bagi saya bukan tentang seberapa banyak teman yang dimiliki, atau
seberapa tinggi prestasi yang diraih. Ini tentang bagaimana saya bertahan dalam siklus perasaan yang terus berulang—senang, sedih, kecewa, lalu mencoba bangkit lagi.

    Saat pertama kali masuk sebagai siswa kelas 7, saya merasa gugup. Saya takut tidak punya teman. Saya datang dari latar belakang yang menurut saya “biasa saja”, dan itu membuat saya merasa kecil di tengah orang-orang baru. Tapi ternyata, saya tidak sepenuhnya sendiri. Ada beberapa orang yang menerima saya, yang mau berteman dengan saya.


Saat itu, saya bersyukur.


    Namun, rasa syukur itu tidak bertahan lama. Saya menyadari bahwa saya masih terlalu kekanak-kanakan. Saya belum benar-benar memahami bagaimana bersikap dengan orang lain. Tanpa saya sadari, saya melakukan banyak kesalahan—hal-hal kecil yang mungkin terlihat sepele, tapi cukup untuk membuat orang lain menjauh. Dan saat itu terjadi, rasanya... sepi.

    Kelas 7 menjadi salah satu fase yang paling campur aduk dalam hidup saya. Ada tawa, ada rasa malu, ada penyesalan yang bahkan sampai sekarang masih terasa ketika diingat. Kadang saya ingin menghapus bagian itu, tapi di sisi lain, saya tahu bahwa itu adalah bagian dari diri saya.


Lalu waktu berjalan.


    Tahun berikutnya, kelas 8 dimulai. Pembagian kelas membuat semuanya terasa seperti di-reset. Lingkungan baru, wajah-wajah baru, dan tentunya—perasaan takut yang sama kembali muncul.Hari pertama terasa canggung. Hari-hari berikutnya terasa berat. Saya sempat berpikir, “Sepertinya akan sulit untuk diterima di sini.” Tapi lagi-lagi, saya salah. Ada orang-orang yang dengan berani mendekati saya. Mengajak saya bicara. Mengenal saya, tanpa memandang masa lalu saya. Jujur, saya heran. Karena bagi saya, itu hal yang tidak biasa. Saya bukan tipe orang yang mudah diajak bicara, apalagi didekati. Tapi mereka tetap melakukannya. Dan kali ini, saya tidak ingin mengulang kesalahan yang sama.


Video hanya pemanis!

    Saya mulai belajar—pelan-pelan. Belajar untuk menjaga sikap, belajar untuk menghargai orang lain, dan yang paling sulit, belajar untuk menerima diri sendiri. Meski saya tidak berubah secara drastis, setidaknya saya berusaha. Hari demi hari berlalu, dan tanpa saya sadari, saya mulai merasa... nyaman. Bukan karena semuanya sempurna, tapi karena saya mulai bisa menerima bahwa hidup memang tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada saat di mana saya merasa sangat senang, tertawa bersama teman-teman. Tapi ada juga saat di mana saya merasa sendirian, bahkan ketika berada di tengah keramaian. Dan anehnya, semua itu terus berulang. Siklus yang sama—senang, sedih, kecewa, lalu bangkit lagi. Kadang melelahkan. Kadang menjengkelkan. Tapi di sisi lain, itu yang membuat semuanya terasa nyata.

    Menjadi seorang Domsavian bagi saya bukan tentang menjadi yang terbaik. Bukan tentang dikenal banyak orang, atau memiliki segudang prestasi. Tapi tentang bagaimana saya bertahan di tengah perasaan yang tidak selalu stabil. Tentang bagaimana saya tetap datang ke sekolah, meskipun ada hari-hari di mana saya tidak ingin bertemu siapa pun. Tentang bagaimana saya tetap mencoba, meskipun sering merasa tidak cukup baik. Dan mungkin, itu adalah “pengalaman terbaik” saya—bukan karena semuanya indah, tapi karena semuanya terasa.


    Karena di tempat inilah, saya belajar bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak pernah jatuh. Tapi tentang bagaimana kita terus bangkit, meskipun jatuh berkali-kali.



Dan sebagai seorang Domsavian, saya bangga pernah merasakan itu semua.


Dito 9J - 22

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tahun ke-8 dan Delapan Keajaiban Kecil

Banyak Cerita di Balik Kelas 8J

Kemenangan Tak Terduga pada Tahun Pertama-ku di SMP PL Domenico Savio